Diskusi Seru Kami di Kelas


Setelah berkenalan singkat, siswa memperkenalkan diri satu-satu. Hanya ada enam orang siswa, sebenarnya 13 orang namun merasa masih libur mereka pun tidak datang (tiga hari sekolah kami diliburkan). Ditambah satu orang siswa kelas IV jadilah mereka kini bertujuh. Kuberikan ice breaking yang dipopulerkan oleh rekan saya di SGI. Ice breaking tangan kanan ke depan, ke belakang depan belakang, bentuk seperti ini lalu berputar, mudah kan caranya…yeeeee…” Setelah itu, mengurutkan diri berdasarkan umur, tinggi, nomor sepatu, nama…” Almiana siswa yang cemberut sejak aku menginjakkan kaki di kelas kini antusias mengikuti. Hmmm…syukurlah. Akhirnya es beku itu mencair juga juga :-)
Setelah puas dengan gerakan kini saatnya aku berikan sebuh nyanyian. Aku memulai masuk ke pembahasan dengan menggugah mereka terlebih dulu dengan nyanyian. Pembahasan tentang penciptaan & kebesaran Allah.
“Mau tidak kalian mendengarkan semua langkah kaki, mulai dari suara yang terkecil hingga yang terbesar, mulai dari yang terjauh hingga yang terdekat, mulai dari langkah kaki semut yang berjalan hingga langkah kaki gajah. Mauuuu?” tanyaku ke mereka membuka materi
“Mau..mau bu guru!!” jawab mereka serempak dan antusias.
“Yakiiiiinnnn??’ tanyaku meyakinkan
“Iy.a, mau… bu guru,”
“Masa, iya, mau, yakinnn?
“Iy.a, mau… bu guru,” terlihat satu persatu mulai mundur, berpikir, dan meragukan sendiri jawabannya.
“Baiklah, bisa mendengar suara-suara langkah kaki semut sepertinya hal yang menarik, tapi bu guru mau bilang jika hal itu terjadi kita tidak akan bisa tidur di malam harinya?”
“Ya..ga maulah bu guru,” dengan logat sasaknya yang kental
“Kenapa bisa begitu, bu guru?,”
“Ya..karena kalian akan selalu berada dalam kebisingan, tidak pernah tenang, suara-suara pasar, suara-suara-suara bising kendaraan, pippp…pip..pipp…, suara kaki-kaki hewan dari yang terkecil seperti semut, suara dengungan nyamuk di rawa-rawa…akan kalian dengarkan sepanjang malam, dan kalian tidak akan bisa tidur.”
“ Wah, saya tidak mau kalau begitu bu guru,”
“ Nah, itu dia nak, keterbatasan telinga kita yang tidak mampu mendengarkan semua suara adalah kasih sayang Allah pada Hamba-HambaNya.’”
“Lalu bagaimana dengan mata?” Tanya mereka
“Apa anak-anakku ingin melihat segala sesuatunya juga, dari benda-benda terkecil hingga yang terbesar,” tanyaku lagi…
“Mau bu guru, tapi saya tidak mau lihat hantu bu guru” jawaban Rika membuat teman lainnya pun tertawa
“Yakin, nak…mau lihat benda-benda yang terkecil yang ada pada makanan dan minuman?” Tanyaku lagi
“Iya…bu guru,”
“Coba bayangkan, saat ingin memakan jajan (istilah segala macam kue di dompu) misalnya kita harus rela untuk membuang bagian demi bagian yang ada makhluk-makhluk atau kuman-kuman kecilnya. Sehingga yang kita makan tinggallah sekecil ini,”kataku sambil memegang bagian jari telunjukku secuil.
“Wah, tidak bisa makan kita bu guru,” jawaban yang membuat siswa lain ikut tersenyum-senyum.
“Nah itu dia nak, mata kita yang terbatas tidak bisa melihat semua benda-benda yang seharusnya dilihat dengan kaca pembesar juga adalah sebuah kasih sayangnya Allah pada kita,”
“Coba bayangkan saat kita bisa melihat semua jenis hewan-hewan kecil yang ada pada makanan, minuman, maka kita tentu akan merasa jijik tak ingin makan” kataku lagi menambahkan.
“Nah sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk mensyukuri segala nikmat yang telah allah berikan itu.?”
Kalau dalam al quraan allah mengulang-ulang puluhan kali pertanyaan itu,” Faaa…”
bi ayyyi ala’i robbiqumaaatuqdziban,” salah satu siswa bernama Sonia yang menyimak dari tadi langsung menyambung.
“Betul sekali sayang, “kataku sambil menaikkan dua jempol kepadanya
“Ada di surah mana ayat itu?” tanyaku lagi
“Surah Arrahman bu,” jawabnya
“ Ada yang tahu artinya?”
Diikuti oleh gelengan kepala para siswa.
“Maka nikmat TuhanMu yang mana lagi yang akan kau dustakan?" 
(Diskusi ini, Inspired From: Harun Yahya Book)
~~~~00~~~~

Komentar