Waktu adalah sebuah amanah dari Allah. Sebuah
modal hidup dan aset berharga setiap orang. Aset yang harus dirawat, dijaga dan
dikelola dengan baik-baiknya. Aset yang tentu saja akan diaudit langsung
oleh auditor terbaikNya di akhirat. Oleh karena itu, setiap kita harus
mempersiapkan laporan pertanggungjawaban.
Modal
setiap manusia di dunia ini adalah waktu yang singkat, nafas yang terbatas, dan
hari-hari yang takkan pernah kembali. Barangsiapa menggunakan kesempatan dan
aset waktunya dalam kebaikan dan ibadah beruntunglah dia. Dan barangsiapa yang
menyia-nyiakannya maka ia telah bangkrut.
Semua yang ada di dunia ini hanya akan kita
nikmati dengan waktu. Tanpa waktu semua takkan berarti. Kekayaan, materi,
popularitas, jabatan, kesehatan. Betapa penting dan berharganya waktu untuk
kita perhatikan sehingga Allah swt. sering bersumpah demi waktu. Wal
ashr (demi waktu), Wal-lail (demi waktu malam), wad-dhuha (demi
waktu dhuha), wal fajr (demi waktu fajar) dan nama-nama
lainnya yang mengisyaratkan tentang waktu.
Hari-hari akan berlalu begitu cepat. Melesat
bagai anak panah. Meninggalkan hal besar dan kecil. Penting atau pun remeh
temeh. Betapa sia-sia hidup yang melewatkan setiap detik tanpa kebaikan dan
manfaat. Sungguh
rugi kita sebagai manusia yang tidak menghargai waktu. Allah mengingatkan kita tentang hal ini dalam
QS. Al Ashr ayat 1-3 bahwa aset berharga kita adalah waktu.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.(QS. Al-Ashr:1-3)
Surah ini seharusnya bisa menjadi
“tamparan” buat kita tentang waktu. Ya...waktu. Betapa sering kita
mengabaikannya kemudian menyesalinya. Sungguh setiap orang akan merugi masalah
waktu. Dari ayat ini demi waktu, beriman saja tanpa beramal
shaleh kita rugi. Beriman dan beramal sholeh tapi tidak saling menasihati dalam
kebaikan dan kebenaran juga masih rugi. Saat kita bisa mengamalkan ketiga ayat
tersebut barulah kita bisa disebut beruntung. Tulisan saya ini juga sebagai
upaya mengamalkan ayat ketiga surah Al-Ashr ini. Semoga, Allah menolong kita
untuk memuliakan waktu-waktu yang tersisa.
Allah Maha Adil telah memberikan modal yang sama
kepada kita. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan. Rata tanpa pandang
bulu. Sama tanpa melihat status dan jabatan. Porsi yang sama diberikan kepada
setiap hambaNya. Sadar atau tidak sadar waktu akan terus berlalu.
Kita sendiri dapat
memilih apakah ingin jadi orang celaka, merugi atau orang yang beruntung dalam
mengelola waktu. Kelak Allah kan
meminta pertanggungjawaban terhadap paket waktu yang telah kita gunakan. Orang
bijak berkata jika
hari ini lebih buruk dari semalam maka kita termasuk orang yang celaka. Jika hari ini sama dengan semalam maka kita
termasuk orang yang merugi. Kita sudah rugi karena kita sudah mengeluarkan
biaya dan keperluan
selama satu hari. Jika
hari ini lebih baik dari semalam, itulah orang yang beruntung.
Predikat sebagai hamba yang beruntung, celaka
atau merugi tentu diri kita sendiri yang dapat mengukurnya. Seberapa
berkualitas kita menggunakan waktu itu untuk kebaikan. Apakah
sudah bertambah hafalan kita? apakah sudah semakin berkualitas kedekatan kita dengan Allah? apakah ada manfaat yang kita lakukan bagi orang lain?
Tentu diri kitalah yang tahu,
Allah dan malaikatNya. Juga waktu yang akan jadi saksi terhadap apa yang telah
kita lakukan. Jika kita tidak memanfaatkannya maka merugilah kita, baik di
dunia lebih-lebih lagi di akhirat. Ya...Robb bimbinglah kami memuliakan
waktu. Bimbinglah kami dalam mengisinya untuk kebaikan. Bimbing
kami ya Allah…agar waktu dan usia kami berkah. Bimbinglah kami
walau usia ini pendek namun semoga terjaga keberkahannya hingga khusnul
khatimah.
Gowa, 5 Desember 2017
Ruper Asrama

Komentar