Sebuah cerpen yang diangakat dari sepotong episode perjalanan sebagai guru di sekolah pelosok Dompu, NTB
~~~~~@@@~~~
“ Ayo ni kita ke
tempat itu segera!,” Sefo dengan logat Mbojonya.
Pemilik perahu kecil yang kusewa. Tanpa alasan yang jelas mengajakku berangkat
selepas subuh. Tak seperti biasanya. Ada raut khawatir yang kutangkap di wajah
tuanya.
“Ada apa, Sefo?,” tanyaku tak mengerti. Nama lengkapnya
Syafruddin. Namun, kebiasaan suku Mbojo menghilangkan satu bunyi atau lebih pada
akhir kata, termasuk pada nama. Tujuannya, agar lebih menghormati si empunya
nama yang dipanggil.
Walaupun hanya dengan nama itu saja tanpa embel-embel “pak” atau “ibu” didepannya,
itu sudah cukup, tidak membuat yang dipanggil tersinggung.
“Sebelum jam delapan, kita
ni harus sampai di sana!,” untuk mengimbangi
ombak Sefo setengah teriak padaku. Jarakku tak terlalu jauh darinya. Menegaskan
bahwa aku benar-benar harus segera ikut.
“Ini ada apa, Sefo?
Mengapa kita harus terburu-buru, bukankah berangkatnya...?,” kalimatku
terputus. Jubaidah atau akrabnya disapa Bodi, istrinya mengiyaratkan untuk
mengikuti ajakan suaminya.
“Naya, maira!,”[1]Bodi
memanggilku. Segera bergegas!. Aku berlari
ke dalam rumah. Terburu-buru tanganku mengambil peralatan selam. Masker selam, snorkel, sirip selam dan baju penyelam.
Untungnya, kusediakan sejak semalam. Dengan tubuh atletisku, hanya butuh
beberapa menit aku telah berada di atas perahu kecil itu. Waktulah yang akan
menjawab mengapa pasangan ini begitu mendesakku. Mendesak untuk segera sampai
di sana. Surga kecilku; Satonda. Ya, tugasku sebagai peneliti muda yang
tergabung dalam Tim Riset Ekspedisi Satonda membuatku mengenal akrab keluarga
ini. Di rumah mereka yang sederhana kadang menampungku dua atau tiga hari
sebelum melakukan penyeberangan ke pulau Satonda.
~~~~@@@~~~~
Bola raksasa itu
terlihat mendaki kaki horizon. Menandakan pagi beranjak siang. Pupil mataku tak
bosan-bosannya menikmati tingkah nakal mereka. Seekor tongkol dan Baracuda berlompatan.
Memburu dan tak henti mencandai ikan–ikan kecil itu. Tanpa terasa, perahu telah
bersandar di mulut dermaga. Mataku tertumbuk pada sebuah tulisan di gerbang
utama. Tulisan berwarna putih yang bernada asing “Welcome to Satonda Island, Dompu”. Alisku bertaut. Bukan karena
tak mampu membacanya. Tapi kenapa kita tak menggunakan bahasa sendiri. Mungkin
turis-turis asing akan lebih tertarik dan tentu punya rasa ingin tahu. Membaca sesuatu yang tak mereka tahu dan
asing di telinga mereka. Ya, bisa jadi begitu.
Ah, beberapa bulan, Satonda kini sedikit demi sedikit
berwajah baru. Melakukan berbagai riasan di sana sini. Termasuk sebuah tulisan
yang dipampang di gerbang. Juga tangga menuju danau yang menurutku terlihat
tidak alami. Di wilayah gerbang utama,
aku disambut teriakan monyet-monyet abu. Mereka mendekam berkelompok di
pepohonan yang ditutupi tumbuhan merambat. Sefo dan Bodi menghampiri bapak yang
berdiri di pintu masuk gerbang utama tadi. Bapak paruh baya itu menyodorkan
kertas. Wajah-wajah itu menegang sesaat. Kerutan wajah Sefo rasanya bertambah
saja. Lelaki sederhana itu tersenyum saat aku mendekat. Ada sesuatu yang seolah
berusaha disembunyikannya.
“Ada apa, Sefo?,” namun hanya gelengan kepala yang
kudapatkan. Aku melirik Bodi juga bapak tadi, sama tak ada jawaban. Baiklah,
kupikir Sefo perlu waktu untuk bicara. Ia pasti akan segera memberitahuku. Kunikmati
sepanjang hari ini dengan melepaskan semua kehausanku. Tak henti kujamahi surga
tersembunyi ini. Harta karun terpendam di dalam dan sekitarnya. Ya..aku
saksinya. Saksi betapa pulau ini menyimpan sejuta kekayaan alam yang tak
tertandingi. Istana biota laut dan satwa langka tersembunyi di surga kecilku ini.
Satonda.
Matahari kian merangkak
ke atas. Birunya langit masih setia memayungi bumi. Gumpalan cumulus berkejaran
ceria. Seolah tahu keasyikanku bersnokeling
ria sejak tadi. Namun aku belum juga memuaskan
kerinduanku.
Kerinduanku pada sahabat-sahabat; biota laut Satonda. Tak lelah aku mengitari
pulau ini. Hamparan karang meja besar dan luas dihiasi karang–karang lunak dan
keras lainnya. Acroporidae, Favidae,
Xenia sp, Sarcophyton sp, Labophyton sp, Hetractris crispa, Nephtea sp,
Capnella sp, dan teman-temannya. Semuanya seolah melambai-lambai. Berlomba
mempertontonkan keindahannya. Mengisi dan memanjakan retina mataku. Masya Allah…maka nikmat mana lagi yang
akan didustakan manusia?
Ombak begitu tenang. Sangat menguntungkan tugas risetku hari
ini. Sinar matahari ikut menghangatkan air laut yang merendam tubuhku sejak
tadi. Hangat dan bening. Kebeningannya membuat bola mataku leluasa menjamah
segala yang terpendam di dalamnya. Aku kini berada di pantai barat. Tepat di
depan gerbang utama, hamparan karang lunak tumbuh bergerombol memenuhi pesisir
pantai. Ikan hias dan penyu sisik berlarian. Bersembunyi pada rerumpun
karang-karang. Seolah mengajakku bermain.
~~~~~@@@@~~~~~
Beberapa hari kegiatan
rutinku meneliti harta karun Pulau Satonda. Mengeruk segala yang ada di
perutnya. Tak peduli keadaan mendung, panas terik. Sama seperti saat ini, dalam
rintik gerimis dan cahaya matahari pagi yang redup. Berhari-hari bersnokeling, meriset kekayaan laut di pulau kecil ini.
Kini aku akan bertualang di daratan pulau Satonda. Kakiku melalui jalan setapak
menuju bibir bukit. Tanpa sadar kini telah berada di persimpangan. Di depanku ada tiga pilihan perjalanan. danau,
punggung bukit barat atau punggung bukit timur? Memikirkan Sefo dan Bodi tak
datang beberapa hari. Planning risetku
pagi ini sedikit terganggu. Bukankah biasanya mereka dengan riang mendatangi
penginapanku? Sambil membawa sambal khas Bodi dan rujak yang disebutnya mangonco.
Aku memilih ke arah kiri, treking menuju punggung bukit barat. Aneka kupu-kupu dan serangga beterbangan
menggodaku. Segera kubidik dan kuabadikan dikameraku. Kulanjutkan perjalanan
menuju dataran lebih tinggi di samping kanan. Sedikit demi sedikit danau
Satonda menampakkan dirinya. Terdengar merdu kicauan srigunting dan kawanan
burung lainnya. Sahut menyahut. Berpindah dari ranting ke ranting lainnya. Tepat
di bawah pohon Pulai besar kuhentikan langkah. Posko II tim riset Ekspedisi
Satonda. Masih terlalu pagi, sengaja aku berangkat lebih awal. Menunggu
kedatangan tim kunikmati suguhan lukisanNya. Danau Satonda terlihat menyerupai
angka delapan. Tiba-tiba, dari arah belakang, kulihat rusa-rusa timor duduk berteduh
dirindang semak belukar. Sangat beruntung bisa melihatnya dari jarak dekat.
Segera kubidikkan kameraku. Hampir sejam berlalu. Tidak seperti biasanya. Ada
apa ini? Chris dan Danish belum jua muncul batang hidungnya. Dua orang asing
rekan kerjaku dalam misi ekspedisi ini. Aku berbalik arah. Kembali ke posko I. Aku yakin terjadi sesuatu!
~~~~~@@@@~~~~~
Chris dan Danish terlihat berbicara serius dengan Sefo.
Terlihat pula sekelompok warga. Bersitegang
dengan warga. Mereka membawa golok! Ada apa ini?
“Kami akan menggunakan bom ini ni di sini!” ancam bapak yang memegang golok.
“Wa ura…wa ura![2] Dao…kasihan terumbu karang yang ada di
sini!,” Sefo menenangkan.
“Ini tanah kami, mengapa kami dilarang melaut di sekitar
sini?,” Sefo berusaha tenang. Dia memang laki-laki tua yang bijak.
“Bukankah kami telah memberikan surat itu beberapa hari yang
lalu. Tak ada yang boleh melaut di sekitar sini,” ujar Chris. Sefo tergugu tak
mampu berbicara.
“Ya, pulau ini sudah dijual Republik kepada kami. Sekarang
pulau ini dan kekayaan yang ada di dalamnya adalah milik kami.” Danish ikut
berbicara. Telingaku seolah tertimpa cairan panas mendengarnya.
“Apa…! Dijuaaaal!,” aku tak mampu menyembunyikan rasa
kagetku. Membuat yang ada di sana serta merta menoleh padaku. Tubuhku serasa
lumpuh. Jadi, selama ini aku telah menjual negeriku…
Dan rintik hujan pun mengamini kami yang menangis. Hujan deras
mengguyur bumi, membersamai Sefo dan warga lainnya pulang ke rumah. Aku berlari
ke danau Satonda yang kini beriak dengan jutaan jarum-jarum air di atasnya. Berharap
deras guyuran air hujan itu akan menghapus segala. Perasaan sedihku, kecewa
juga bersalah yang kini menyatu jadi satu. Airmata mengalir tak kalah derasnya
dengan hujan yang turun. Hingga jarak pandang terasa begitu sempit. Menumpahkan segala duka dalam jiwa.
Air hujan perlahan reda. Kupandangi landscap terbuka bukit
dan Danau Satonda untuk terakhir kalinya. Hanya memandang bentangan Danau
Satonda yang kadang berwarna biru atau hijau. Terlihat bangau putih dan abu,
berenang kesana kemari menyelam kemudian menyembul kepermukaan danau. Itik-
itik liar yang hanya hidup di danau satonda yang seolah menghiburku. Mungkin
suatu hari anak-anak negeri ini bisa membeli kembali danau ini. Surga yang
tersembunyi.
***********

Komentar